Roberto de Zerbi Telah Berpisah Dengan Marseille. Roberto De Zerbi resmi berpisah dengan Marseille melalui kesepakatan bersama pada Rabu pagi ini, hanya beberapa hari setelah kekalahan telak 5-0 dari Paris Saint-Germain di Parc des Princes yang menjadi pukulan terakhir bagi masa jabatannya. Pelatih asal Italia berusia 46 tahun itu bergabung dengan klub Ligue 1 pada musim panas 2024 setelah sukses di Brighton, dengan harapan membawa gaya sepak bola menyerang dan ambisi tinggi ke Stade Vélodrome, tapi periode kurang dari dua tahun berakhir di tengah tekanan besar akibat hasil buruk beruntun termasuk eliminasi dini dari Liga Champions. Klub mengeluarkan pernyataan singkat yang menyatakan akhir kolaborasi secara damai, sementara De Zerbi sendiri sempat menyatakan kekecewaan mendalam atas sikap pemain pasca-kekalahan, membuat keputusan ini terasa tak terhindarkan meskipun ia sempat membawa tim finis di posisi kedua musim lalu. Kini, nama De Zerbi langsung menjadi incaran beberapa klub besar Eropa, terutama di Inggris, sementara Marseille harus segera mencari pengganti sebelum laga krusial berikutnya. VENUE NIKAH
Latar Belakang Kedatangan dan Harapan Awal: Roberto de Zerbi Telah Berpisah Dengan Marseille
De Zerbi tiba di Marseille dengan reputasi sebagai salah satu pelatih taktikal paling inovatif di Eropa setelah membawa Brighton ke level baru dengan permainan possession-based yang atraktif dan hasil bagus di Liga Inggris, sehingga penunjukannya disambut antusias oleh fans yang haus akan sepak bola menghibur pasca-era sebelumnya yang kurang konsisten. Ia menandatangani kontrak tiga tahun pada Juni 2024 dengan target membangun tim kompetitif di Ligue 1 dan Liga Champions, di mana musim pertama berjalan cukup solid dengan finis runner-up domestik berkat serangan tajam dan organisasi defensif yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. De Zerbi berhasil menerapkan filosofinya dengan sukses di awal, memenangkan banyak laga kandang dengan skor meyakinkan dan membawa Marseille ke fase grup Liga Champions, yang membuat banyak pengamat percaya ia bisa mengembalikan kejayaan klub sebagai kekuatan besar Prancis. Namun, ekspektasi tinggi itu mulai retak ketika performa inkonsisten muncul, terutama di laga besar melawan tim top, dan cedera pemain kunci serta kurangnya kedalaman skuad membuat tantangan semakin berat sepanjang musim ini.
Penyebab Utama Perpisahan dan Hasil Buruk Terkini: Roberto de Zerbi Telah Berpisah Dengan Marseille
Puncak kegagalan datang dari dua kekalahan memalukan belakangan ini, pertama 3-0 dari Club Brugge yang menyebabkan Marseille tersingkir dari Liga Champions karena selisih gol di fase grup, diikuti hantaman 5-0 dari PSG yang memperlihatkan ketidakmampuan tim bangkit dan kurangnya semangat juang di lapangan. De Zerbi disebut sangat kecewa dengan sikap pemain setelah laga-laga itu, di mana ia merasa ada kurangnya keinginan untuk membalikkan keadaan meskipun sudah berusaha keras memberikan motivasi dan perubahan taktik. Statistik menunjukkan ia memimpin 69 pertandingan dengan catatan 39 kemenangan, tapi tren negatif di paruh kedua musim ini, termasuk posisi keempat di Ligue 1 setelah PSG merebut kembali keunggulan, membuat dewan klub dan pelatih sepakat bahwa kelanjutan kolaborasi tak lagi menguntungkan kedua pihak. Meskipun berakhir secara damai, perpisahan ini mencerminkan tekanan tinggi di Marseille yang selalu menuntut hasil instan, dan De Zerbi yang dikenal perfeksionis memilih mundur daripada terus berjuang dalam situasi yang tak ideal.
Dampak dan Prospek Ke Depan Bagi Kedua Pihak
Kepergian De Zerbi meninggalkan Marseille dalam posisi genting karena musim masih panjang dan mereka harus segera menunjuk pelatih interim atau permanen untuk menjaga momentum di Ligue 1 serta mempersiapkan kompetisi domestik lainnya, sementara fans merasa kehilangan identitas sepak bola menyerang yang sempat dibangun. Bagi De Zerbi, langkah ini justru membuka peluang baru karena reputasinya tetap tinggi di kalangan klub-klub Premier League yang mencari pelatih dengan visi modern, dengan spekulasi kuat mengarah ke beberapa tim besar yang sedang membutuhkan perubahan. Ia sempat hampir hengkang sebelum jendela transfer tutup, menandakan ketegangan sudah ada sejak lama, tapi kekalahan akhir pekan menjadi katalisator akhir. Masa depannya kini terbuka lebar untuk kembali ke Inggris atau bahkan opsi lain di Eropa, sementara Marseille berisiko kehilangan momentum jika tak cepat beradaptasi, terutama dengan persaingan ketat di papan atas Ligue 1 yang tak memberi ruang untuk jeda panjang.
Kesimpulan
Perpisahan Roberto De Zerbi dengan Marseille menandai akhir era singkat tapi penuh gejolak di mana pelatih Italia itu membawa harapan besar tapi akhirnya tersandung oleh hasil buruk krusial dan ketidakcocokan internal, meninggalkan klub dengan tugas berat untuk menemukan arah baru di tengah musim. Meskipun berakhir secara mutual, keputusan ini mencerminkan realitas sepak bola modern di mana kesabaran terbatas meski ada kemajuan sebelumnya, dan De Zerbi kini bebas mengejar proyek selanjutnya dengan pengalaman lebih matang. Bagi Marseille, ini kesempatan untuk introspeksi dan membangun skuad yang lebih solid, sementara De Zerbi tetap menjadi nama panas yang kemungkinan besar akan segera kembali ke panggung besar. Kisah ini mengingatkan bahwa bahkan pelatih berbakat pun tak kebal dari tekanan hasil, tapi juga membuka pintu bagi babak baru yang potensial lebih sukses bagi kedua belah pihak.